Mimpi
ini ibarat suatu realiti menyelami jiwa yang ketandusan pilu. Aku duduk
terbaring dikatil merenung diluar jendela kamar melihat suasana burung terbang
bebas meneroka alam. Keriangan boleh sahaja dimiliki jika kebebasan tidak
diancam. Mata tajam melihat branula pada tanganku yang seolah-olah mengunci
kebebasan. Memang benar aku sakit tapi sampai bila jiwa boleh terpadam dengan
kepenatan dunia. Peluang merentas fantasi membawa diri seolah-olah ada kehidupan
baharu disana yang membawa kebebasan. Tapi rantai menjerat kehidupan menarik
hingga aku tidak sanggup menanggung beban masalah. Lamunanku begitu panjang
hingga terlupa bersarapan. Jam menunjukkan 8:15 pagi.
Search This Blog
Menjadikan suatu medium kebaikan layar ilmu bermanfaat mencuruh karya agung kepada umum. Tambahan juga menginpirasikan ilham pemikiran golongan muda meluahkan perasaan dalam berkarya.
- Get link
- X
- Other Apps

Comments
Post a Comment